Thursday, November 20, 2008

POLITIK INTERNASIONAL 01

IRAN DAN AMERIKA LATIN-KARIBIA DALAM MENGKONSOLIDASIKAN KEKUATAN PENENTANGAN DAN PENANTANGAN TERHADAP HEGEMONI DAN DOMINASI AMERIKA SERIKAT DALAM DINAMIKA POLITIK INTERNASIONAL

Ahmadinejad Menggandeng Kelompok Kiri Amerika Latin
Semangat menantang dan menentang Amerika Serikat telah membawa Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad melawat ke Amerika Latin. Manuver Ahmadinejad ke Amerika Latin menarik, lebih-lebih didorong oleh keinginan membantu aliansi global menentang dan menantang AS. Sekalipun secara geografis, kultural, dan historis terasa jauh antara Iran dan Anerika Latin, namun menjadi terasa dekat karena semangat bersama menentang AS. Sentimen anti-AS di sejumlah negara Amerika Latin dan Iran memang sedang tinggi-tingginya meski dengan alasan dan latar belakang yang berbeda-beda. Presiden Ahmadinejad membawa persoalan permusuhan bilateral dengan AS ke panggung geopolitik, menggandeng sejumlah negara Amerika Latin yang sedang gerah dengan AS. Sedangkan gerakan kiri sedang mendapat angin di Amerika Latin, yang tidak terlepas dari sentimen anti-AS. Sudah sembilan dari 19 negara Amerika Latin dan Karibia berada dibawah pemerintahan kiri. Barisan pemerintah kiri itu terdiri atas Kuba, Venezuela, Brazil, Bolivia, Argentina, Cile, Uruguay, Nikaragua, dan Ekuador .
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Sabtu 13 Januari 2007 berkunjung ke Venezuela dan memperkuat hubungan Iran-Venezuela dengan bertemu langsung Presiden Hugo Chavez. Dalam pertemuan itu dibahas berbagai kesepakatan antar kedua negara diantaranya pendanaan proyek-proyek di negara-negara lain untuk membantu merintangi dominasi AS. Hugo Chavez menyatakan,
" Itu akan memungkinkan kami menyokong modal…terutama di negara-negara yang pemerintahnya membuat upaya untuk membebaskan diri mereka dari penindasan imperialis AS. Dana ini, saudaraku (Ahmadinejad), akan menjadi sebuah mekanisme untuk pembebasan."

Ahmadinejad menyebut itu sebuah keputusan "yang sangat penting" yang akan membantu meningkatkan "kerja sama gabungan di negara-negara ketiga", terutama di negara-negara Amerika Latin dan Afrika .
Minggu 14 Januari 2007, menyatakan tekad untuk membentuk sebuah aliansi anti Ametika Serikat (AS) dengan negara-negara revolusioner di Amerika Latin. Ahmadinejad mengkampanyekan perlawanan terhadap dominasi AS di dunia dimanapun ia berada. Di Nikaragua ia mengatakan,
"Kedua negara kita mempunyai kepentingan, musuh-musuh dan tujuan-tujuan yang sama. Kita mungkin saja terpisah jauh, tetapi kita dekat di hati. Kaum imperialis tidak suka kami membantu Anda untuk maju dan berkembang. Mereka tak suka kita menyingkirkan kemiskinan dan mempersatukan rakyat. Namun, seluruh dunia tahu bahwa Nikaragua dan Iran bersama. Iran, Nikaragua, dan Venezuela serta negara-negara revolusioner lain akan bersama menentang imperialis."

Pada hari Senin 15 Januari 2007 Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad bersama dengan Presiden Bolivia Evo Morales dan Presiden Haiti Rene Preval menghadiri upacara pengukuhan Rafael Correa sebagai Presiden Ukuador di Kawasan Amerika Latin .
Tabel 1
Sikap Para Pemimpin Amerika Latin-Karibia Terhadap Pemimpin Iran dan Bentuk Kerja Sama Dengan Iran

Sikap Pemimpin Terhadap Iran Bentuk Kerjasama Dengan Iran
Kunjungan Ahmadinejad hari Sabtu, 13 Januari 2007 merupakan kunjungan kedua ke Venezuela dalam kurang dari empat bulan dilakukan saat dia berusaha mendobrak isolasi internasional atas program nuklir negaranya dan kemungkinan mendapatkan sekutu baru di Amerika Latin. Chavez dan Ahmadinejad semakin disatukan oleh kebencian mereka kepada Washington (pemerintah AS). Chavez telah menjadi seorang pembela utama ambisi nuklir Iran. Ia menuduh AS menggunakan isu itu sebagai sebuah dalih untuk menyerang sebuah rezim yang ditentangnya, dan menjanjikan untuk membela Iran. 1. Perencanaan untuk sebuah dana gabungan 2 miliar dollar AS untuk mendanai investasi di Venezuela dan Iran, uang itu juga akan digunakan untuk proyek di negara-negara ketiga yang bersahabat.
2. Menyatakan tekad untuk mengusahakan pengurangan pasokan minyak dunia untuk melawan turunnya harga.
Nikaragua dan Iran pernah bersilang jalan pada tahun 1980-an dalam skandal Iran-Contra. Pada saat itu dengan dian-diam AS menjual senjata kepada Iran untuk membebaskan sandera-sandera Amerika. AS menggunakan sebagian dari hasil penjualan senjata itu untuk mendukung pemberontak Contra yang berjuang untuk menggulingkan Ortega. Kasus tersebut sudah mulai dilupakan dengan pernyataan Ortega, "Dalam diri saudara-saudara kita, Iran memiliki rakyat, sebuah pemerintah, seorang presiden yang mau bergabung dengan rakyat Nikaragua dalam perjuangan besar melawan kemiskinan." 1. Penandatanganan kesepakatan bantuan pembangunan rumah-rumah murah, bendungan, pabrik-pabrik pembuat bus sampai sepeda.
2. Kesepakatan menjalankan program untuk memperbaiki air minum, pelabuhan, dan industri perikanan.
3. Akan membuka kedutaan-kedutaan besar di masing-masing ibu kota, memperkuat hubungan antara kedua negara yang selama ini hanya memiliki sedikit interaksi, namun sama-sama mempunyai sejatah penuh kesulitan dengan AS.

Latar Belakang Sikap Anti-AS Iran
Sikap permusuhan Iran-AS nersifat akumulatif, yang berlangsung sejak pecah revolusi Islam Iran tahun 1979. permusuhan memburuk akibat komplikasi dengan isu nuklir dan persoalan Timur Tengah. Iran merasa diperlakukan tidak adil karena terus menerus ditekan AS untuk menghentikan program nuklirnya. Sentimen anti-AS juga muncul karena pemihakan AS terhadap Israel dalam konflik Timur Tengah, yang telah menghakangi Palestina mendirikan negara merdeka di tanah airnya sendiri .
AS akhir-akhir ini semakin keras mengancam Iran, yang dianggap terkait dengan semakin memburuknya situasi di Irak. AS bahkan telah menambah kekuatannya di perairan teluk dengan menambah satu gugus tugas kapal induk, dengan alasan untuk menghadapi "aksi negatif" Iran. Wakil Presiden AS Dick Cheney bahkan menuduh Iran memancing di air keruh. Meskipun demikian, anggota Kongres dari Demokrat, John Murtha, yang mengetuai subkomite yang bertugas mengontrol pengeluaran Pentagon, menegaskan bahwa Presiden AS tidak boleh memerintahkan tentara AS ke Iran. Murtha mengatakan,
"Presiden tidak punya kewenangan legal untuk masuk ke Iran dan dia tidak punya kenanpuan untuk melakukannya meskipun dia menginginkannya."

Kontroversi Politik Domestik Iran Terhadap Kebijakan Ahmadinejad
Sejumlah politisi dan pejabat pemerintah Iran mengungkapkan, Ketua Juru Runding Nuklir Iran Ali Larijani dan beberapa pejabat moderat di Iran mulai frustasi terhadap Presiden Ahmadinejad karena pidato-pidatonya itu justru memicu konfrontasi dan menyulitkan untuk mengamankan "hak nuklir damai" Iran .
"Dalam suatu atmosfer yang tenag dan sepi, Iran bisa menetralisasi tekanan AS atas program atomnya. Pidato yang berapi-api justru memperburuk situasi."

Demikian ungkapan seorang pejabat Iran yang minta dirahasiakan identitasnya kepada para jurnalis. Ketidaksetujuan ranyat Iran atas cara Ahmadinejad menyikapi tekanan AS tercermin dalam hasil pemilihan umum untuk parlemen lokal beberapa waktu lalu, yang menunjukkan menurunnya dukungan terhadap Ahmadinejad. Media-media di Iran pun mulai berani mengkritik presidennya, sebagaimana dilakukan beberapa media terhadap kunjungan Ahmadinejad ke Amerika Latin. Dibeberapa media dan anggota parlemen Iran yang moderat menganggap kunjungan itu dilakukan dalam waktu yang tidak tepat.
"Ketika Condolezza Rice dengan dokumen nuklir Iran ditangannya berada di kawasan ini untuk berbicara dengan negara-negara Arab tetangga Iran, Presiden Iran justru mengagung-agungkan kemenangan sosialisme di Amerika Latin."

Demikian harian reformis, Etemad Melli menyebutkan. Surat kabar itu menambahkan, apakah presiden benar-benar memikirkan bahwa orang-orang seperti Chavez, Correa, dan Ortega bisa menjadi sekutu strategis Iran.
"Teman-teman sayap kiri ini hanya baik untuk diskusi di kedai kopi."
Demikian ditambahkan oleh surat kabar tersebut. Akan tetapi, harian konservatif, Ressalat, menilai berbeda kunjungan itu.
"Kehadiran Ahmadinejad di halaman belakang AS dan dengan penerimaan yang baik tentu menimbulkan kemarahan Presiden AS George W Bush dan sekutunya."

Politisi dari kubu konservatif, Mohammad Khosh-Shehreh, juga mengkritik kunjungan Ahmadinejad karena dilakukan pada saat anggaran belanja negara 2007 yang tertunda tengah disiapkan .

Latar Belakang Sikap Anti-AS Amerika Latin dan Karibia
Kelompok kiri menolak tekanan dan desakan AS begi liberalisasi perdagangan dan sistem ekonomi pasar, yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat Amerika Latin, yang belum siap berkompetisi karena masih bergulat dengan kemiskinan. Kekecewaan bertambah karena AS tidak memperlihatkan kepedulian terhadap proses pembangunan di negara-negara Amerika Latin yang digambarkan berada di pekarangan belakangnya .
Tabel 2
Sikap Para Pemimpin Amerika Latin-Karibia dan Iran Terhadap Pemerintah AS

Negara dan pemimpin Sikap pemimpin terhadap AS
Venezuela (Hugo Chavez). Mencela imperialisme AS di dunia.
Nikaragua (Daniel Ortega). Ortega mengambil posisi lebih lunak dari Chavez dan Ahmadinejad dalam menyikapi AS.
Iran (Mahmoud Ahmadinejad) Mencela imperialisme AS di dunia.

Tajuk Rencana, Kompas, 17 Januari 2007.
Kompas, 15 Januari 2007.
Kompas, 16 Januari 2007.
Kompas, 17 Januari 2007.
Tajuk Rencana, Kompas, 17 Januari 2007.
Kompas, 17 Januari 2007.
Iran dilaporkan telah mengirimkan surat kepada Raja Arab Saudi untuk membantu menyampaikan masih adanya itikad baik dalam urusannya dengan AS. Hal itu disampaikan seorang pejabat Saudi, tetapi langsung dibantah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Mohammad Ali Hosseni, Selasa 16 Januari 2007. beberapa jam sebelum kedatangan Menteri Luar Negeri AS Condolezza Rice ke Arab Saudi, ketua juru runding nuklir Iran Ali Larijani memang datang ke Saudi, Senin 16 januaei 2007. Pada kesempatan itu Larijani dikabarkan menyampaikan sebuah surat dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad kepada Raja Saudi Abdullah. Menurut pejabat Saudi, Iran menginginkan Saudi, sebagai sekutu dekat AS, menyampaikan sebuah pesan itikad baik ke Pemerintah AS. Akan tetapi, Hosseni mengatakan, berita mengenai Iran meminta Saudi menjadi penengah antara Iran dan AS sama sekali tidak berdasar. Larijani kepada televisi pemerintah mengatakan bahwa dalam kunjungannya ke Saudi dia telah berbicara dengan Pangeran Bandar bin Sultan mengenai "menghadirkan keamnanan lebih besar dikawasan ini", bertemu Menteri Luar Negeri Saud Al-Faisal, dan juga Raja Abdullah. Tujuan kunjungan itu untuk meningkatkan saling pengertian antara Syiah dan Sunni, sebagai upaya untuk meningkatkan keamanan di Timur Tengah. Beberapa pengamat meyakini, setidaknya kunjungan Larijani dimaksudkan agar negara Arab sekutu AS itu tidak ikut memusuhi Iran. Ilmuwan Politik Iran, Nasser Hadian-Jazy, mengatakan, kunjungan Larijani itu merupakan upaya untuk mencegah apa yang akan dilakukan Rice, yaitu menyatukan negara-negara Arab untuk menentang Iran. Disisi lain, dia menambahkan, hal itu juga menunjukkan hadirnya kembali pengaruh kekuatan konservatif moderat, seperti Larijani, ditengah kritik publik yang semakin meningkat terhadap Presiden Ahmadinejad dan pidato-pidato anti-AS-nya. Kompas, 17 Januari 2007.
Kompas, 17 Januari 2007.
Tajuk Rencana, Kompas, 17 Januari 2007.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home